Part 1:
Hujan turun deras sore itu. Angin dingin menerpa tubuh Rafi yang hanya berselimutkan jaket tipis penuh tambalan. Ia berdiri di depan toko roti, menatap rak kaca yang berisi aneka roti hangat dengan mata berbinar. Perutnya sudah lama tak diisi apa pun sejak pagi.
Namun yang membuat hatinya perih bukan hanya rasa lapar, tapi bayangan wajah ibunya yang sedang terbaring lemah di rumah — di gubuk kecil di ujung kampung.
“Ibu belum makan…” gumamnya lirih.
Tangannya merogoh saku celana, hanya menemukan tiga keping koin. Tak cukup untuk sepotong roti pun. Ia menatap lama, lalu berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti ketika pemilik toko, seorang perempuan paruh baya, memanggilnya.
“Kau lapar, Nak?”
Rafi hanya menunduk.
“Ambillah sepotong roti ini,” kata perempuan itu sambil tersenyum. “Tidak apa-apa, gratis.”
Rafi menerima roti itu dengan mata berkaca-kaca. Tapi alih-alih memakannya, ia membungkus roti itu dengan hati-hati menggunakan kain kecil yang selalu ia bawa.
“Untuk Ibu,” bisiknya pelan.
Ia berlari pulang di tengah hujan, menerjang genangan, tanpa memedulikan dingin yang menggigit. Sampai di rumah, ibunya terbaring pucat. Nafasnya tersengal. Rafi menggenggam tangan ibunya yang dingin, lalu menyodorkan roti itu.
“Ibu… aku bawakan roti. Hangat, Bu… dimakan ya…”
Senyum tipis terukir di bibir sang ibu. Dengan sisa tenaga, ia menyentuh wajah anaknya.
“Rafi… kau belum makan kan? Ibu tahu… makanlah, Nak…”
Rafi menggeleng keras. “Tidak, Bu. Ini untuk Ibu.”
Ibunya memaksa menelan sepotong kecil roti, lalu menatap wajah anaknya lama sekali.
“Terima kasih… Nak… Ibu sayang kamu…”
Kata-kata itu menjadi ucapan terakhirnya. Nafasnya perlahan berhenti, sementara tangan Rafi masih menggenggam tangannya erat.
Hujan belum reda ketika Rafi memeluk tubuh ibunya yang kini diam. Roti yang tadi hangat kini dingin, basah oleh air mata.
Beberapa tahun kemudian, Rafi sudah dewasa. Ia membuka sebuah toko roti kecil di pinggir jalan, dengan papan bertuliskan:
“Roti Ibu – Sepotong Cinta untuk yang Lapar”
Setiap hari, di depan tokonya, selalu ada anak kecil yang datang dengan pakaian lusuh. Dan seperti dulu, Rafi akan tersenyum dan berkata,
“Ambillah, Nak. Tidak apa-apa, gratis.”
Part 2:
Hari itu matahari belum tinggi ketika seorang wartawan lokal datang ke sebuah toko kecil bernama “Roti Ibu – Sepotong Cinta untuk yang Lapar.”
Toko itu sederhana, berdinding kayu, dengan aroma roti hangat yang selalu menguar sampai ke jalan. Di depan toko, ada papan kecil bertuliskan tangan:
“Setiap anak yang lapar, boleh makan tanpa bayar.”
Wartawan itu heran — bagaimana toko kecil seperti ini bisa bertahan tanpa mencari untung besar?
Lalu ia bertanya pada pemiliknya, seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahun bernama Rafi.
Dengan senyum lembut, Rafi berkata,
“Saya tidak membuka toko ini untuk kaya, Pak. Saya buka untuk membayar janji yang dulu belum sempat saya tepati pada Ibu.”
Rafi lalu menceritakan kisah masa kecilnya — tentang hari hujan, sepotong roti, dan ibunya yang meninggal dengan roti dingin di tangan.
“Saya dulu tidak punya apa-apa, Pak. Tapi saya punya seorang Ibu yang mengajarkan saya arti cinta. Saya cuma ingin meneruskan cinta itu.”
Air mata sang wartawan menetes tanpa ia sadari. Beberapa hari kemudian, kisah Rafi dimuat di sebuah koran daerah dengan judul:
“Sepotong Roti, Sepotong Cinta dari Seorang Anak untuk Dunia.”
Berita itu viral. Orang-orang dari berbagai kota datang ke toko kecil itu. Bukan hanya untuk membeli roti, tapi untuk merasakan kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Banyak yang menitipkan donasi, tapi Rafi tak pernah mau mengambil lebih dari yang ia butuhkan untuk membeli bahan dan menggaji dua karyawan tuanya — janda dan anak yatim dari kampung sebelah.
“Ibu saya mengajarkan, rezeki bukan untuk disimpan, tapi dibagikan,” katanya setiap kali orang memaksa memberinya uang lebih.
Suatu sore, datanglah seorang wanita tua ke tokonya. Tubuhnya bungkuk, jalannya tertatih dengan tongkat. Ia menatap wajah Rafi lama sekali, lalu berkata pelan,
“Nak… kamu Rafi, ya?”
“Iya, Bu… tapi Ibu siapa?”
“Saya pemilik toko roti dulu, Nak… yang kasih kamu roti waktu kamu kecil…”
Rafi tertegun. Air matanya langsung jatuh. Ia memeluk wanita itu dengan haru.
“Bu… Ibu masih ingat saya?”
“Ingat, Nak. Dulu kamu datang kehujanan, menggigil, tapi matamu… penuh kasih. Saya nggak pernah lupa.”
Wanita tua itu tersenyum sambil menatap papan nama di atas toko.
“Ternyata, sepotong roti yang dulu kuberikan, tumbuh jadi ladang kebaikan yang besar sekali, Nak.”
Mereka berdua menangis dalam diam. Di luar, hujan kembali turun — seperti hujan yang sama bertahun-tahun lalu. Tapi kini, Rafi tak lagi sendirian dalam dingin.
Beberapa tahun kemudian, toko “Roti Ibu” menjadi yayasan kecil yang setiap hari membagikan makanan gratis ke panti, sekolah, dan jalanan.
Di setiap bungkus roti tertulis kata sederhana yang kini menjadi moto hidup Rafi:
“Kasih Ibu tak pernah basi.”
Malam hari, setelah toko tutup, Rafi selalu duduk di pojok dapur. Di dinding, tergantung foto ibunya — wanita sederhana dengan senyum yang lembut.
Di bawah foto itu, ada tulisan yang ia buat sendiri:
“Dulu Ibu hanya makan sepotong roti. Tapi dari roti itulah aku belajar memberi seluruh hidupku.”
Ia tersenyum, menatap langit malam, dan berbisik lirih:
“Bu… Rafi udah nyelesain janji Rafi. Ibu pasti bahagia di sana, ya?”
Angin lembut lewat, menggoyang tirai jendela.
Entah kenapa, malam itu aroma roti terasa lebih hangat dari biasanya — seolah ibunya datang… dan memeluknya dalam diam.
Epilog: Aroma Roti dari Surga
Tahun-tahun berlalu.
Kota kecil itu telah berubah. Jalanan ramai, gedung-gedung berdiri tinggi, dan toko-toko modern bermunculan di setiap sudut. Namun, di sebuah gang sempit yang sedikit tersembunyi, “Roti Ibu” tetap berdiri — sederhana, tapi tak pernah sepi dari senyum orang-orang kecil.
Suatu pagi, kabar duka tersebar cepat:
Rafi, sang pemilik Roti Ibu, berpulang dalam tidurnya. Tanpa sakit panjang, tanpa keluhan, ia pergi dengan wajah damai — di tangannya masih tergenggam adonan roti yang belum sempat dipanggang.
Kabar itu membuat banyak orang datang. Anak-anak yatim, pedagang kecil, guru, sopir, hingga orang-orang yang pernah dibantunya — semua berduka. Tak ada yang bisa menahan air mata ketika melihat dapur toko yang masih berantakan, dengan tulisan kecil di papan kapur:
“Hari ini kita buat roti tempe — seperti roti pertama untuk Ibu.”
Seminggu setelah pemakaman, toko itu sempat tutup. Tak ada yang tahu siapa yang akan melanjutkannya. Hingga suatu sore, ketika matahari condong ke barat, seorang gadis remaja datang membawa kunci tua dan membuka pintu toko itu perlahan.
Namanya Alya, gadis berusia 16 tahun. Ia anak dari seorang janda miskin yang dulu sering diberi roti gratis oleh Rafi setiap kali lapar.
“Om Rafi pernah bilang, kalau aku besar nanti, aku boleh jaga toko ini,” ucapnya lirih sambil menghapus air mata.
Alya menyalakan oven tua, mengaduk adonan seperti yang dulu Rafi ajarkan, dan menulis sesuatu di papan kapur dengan kapur putih:
“Hari ini, kita buat roti untuk Om Rafi.”
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Toko “Roti Ibu” hidup lagi. Bedanya, kini dijalankan oleh anak-anak muda yang dulunya pernah ditolong Rafi.
Mereka melanjutkan tradisi: siapa pun yang lapar, boleh makan tanpa bayar.
Dan di setiap bungkus roti, selalu ada secarik kertas bertuliskan tangan Alya:
“Kasih Ibu tak pernah basi.
Warisan Rafi — cinta yang terus dibagi.”
Setiap kali aroma roti keluar dari oven, orang-orang di sekitar toko sering berkata,
“Entah kenapa, baunya hangat sekali… seperti ada yang menjaga dari langit.”
Dan memang benar — mungkin, di sana, Rafi sedang tersenyum bersama ibunya, melihat bahwa sepotong roti yang dulu ia selamatkan untuk sang Ibu… kini telah menjadi ribuan roti yang menyelamatkan banyak jiwa.
Kadang, cinta tak perlu sebesar lautan.
Cukup sepotong roti, yang diberikan dengan tulus — bisa jadi doa yang tak pernah berhenti mengalir, bahkan setelah pemberinya tiada.

