Pamekasan – Belakangan ini, masyarakat Pamekasan digemparkan oleh sejumlah kasus pembunuhan yang terjadi di beberapa wilayah. Dalam hitungan minggu, berita duka datang silih berganti — mulai dari kasus di pedesaan hingga yang terjadi di wilayah kota. Peristiwa-peristiwa tragis ini menimbulkan keprihatinan mendalam sekaligus tanda tanya besar: ada apa dengan kita?
Pamekasan selama ini dikenal sebagai daerah religius dengan budaya santun dan nilai kekeluargaan yang kuat. Namun, akhir-akhir ini, suasana itu seakan memudar di tengah maraknya kasus kekerasan. Nyawa seolah menjadi ringan, darah mudah tertumpah, dan kemarahan kerap mendahului akal sehat.
Fenomena ini bukan sekadar masalah hukum. Lebih dari itu, ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang mulai retak di dalam kehidupan sosial kita. Entah karena tekanan ekonomi, pengaruh lingkungan, media sosial yang tak terkendali, atau karena nilai-nilai moral yang perlahan terkikis.
Kita hidup di zaman di mana emosi mudah tersulut, sementara ruang untuk menenangkan diri semakin sempit. Konflik kecil bisa berubah menjadi tragedi besar hanya karena kehilangan kendali sesaat. Padahal, sejatinya, tidak ada dendam yang pantas ditebus dengan darah, dan tidak ada masalah yang layak diselesaikan dengan kekerasan.
Sudah saatnya kita berhenti sejenak untuk merenung. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengembalikan kesadaran bahwa kehidupan ini adalah amanah — dan setiap nyawa memiliki nilai yang tak ternilai. Kita perlu kembali menumbuhkan budaya dialog, saling menghargai, dan mengedepankan sabar dalam menghadapi perbedaan.
Para tokoh agama, pendidik, dan orang tua memiliki peran penting dalam menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat. Pendidikan moral dan pembinaan karakter tak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus menjadi napas dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita ingat kembali jati diri orang Madura yang sesungguhnya: tegas tapi berjiwa besar, berani tapi berhati lembut, memegang kehormatan tapi menjunjung kemanusiaan.
Jika hati manusia mulai tumpul, maka darah akan mudah tertumpah. Karena itu, tugas kita bersama adalah menajamkan kembali hati dengan kasih sayang, empati, dan iman.
Semoga bumi Pamekasan kembali teduh. Semoga setiap hati yang panas menemukan kesejukannya dalam nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan. Dan semoga tragedi-tragedi ini menjadi pelajaran berharga agar kita semua lebih menghargai arti kehidupan.

