Ada satu kenyataan pahit yang sering berulang di sekitar kita: manusia yang paling lantang membicarakan keburukan seseorang, justru adalah mereka yang pernah menikmati kebaikannya. Mereka duduk di antara lingkaran obrolan, menyeret nama orang lain dalam cerita miring, seolah-olah lupa bahwa tangan yang kini mereka cela dulu pernah menjadi sandaran saat mereka membutuhkan bantuan.

Ironisnya, orang seperti itu tidak sekadar pandai bergosip. Ia adalah bagian dari kaum munafik—mereka yang wajahnya tersenyum di depan, tetapi hatinya dipenuhi iri dan dengki. Ia berbicara dengan memutarbalikkan fakta, mengubah kebaikan menjadi seolah-olah kelicikan, dan menyulap cerita sederhana menjadi keburukan yang dilebih-lebihkan. Semua itu dilakukan agar dirinya tampak benar, tampak bersih, tampak paling suci.

Padahal, dialah yang dulu datang membawa permohonan. Dialah yang pernah mengetuk pintu meminta pertolongan. Dialah yang pernah merasakan kebaikan tanpa diminta. Namun ketika keadaan berbalik, ia justru menghabiskan napasnya untuk menjatuhkan orang yang pernah mengangkatnya.

Manusia seperti ini lupa satu hal: semakin ia memfitnah dan memutarbalikkan fakta, semakin jelaslah siapa dirinya yang sebenarnya. Ia mungkin tampil seakan paling baik, paling alim, paling suci, tetapi kata-katanya menjadi cermin yang memantulkan kemunafikan yang tak bisa ia tutupi.

Pada akhirnya, waktu akan memisahkan antara mereka yang tulus dengan mereka yang hanya bersandiwara. Kebaikan tidak pernah hilang meski tidak diakui, dan keburukan yang keluar dari mulut munafik justru menjadi bukti siapa yang benar dan siapa yang berpura-pura.